Belajar Dari 20 Jurus Berdagang Orang Cina

gambar: skalanews.com
Orang Cina memang punya kemampuan khas dalam bidang perdagangan. Mereka bisa merajai berbagai usaha perdagangan besar di tanah air Indonesia. Dari daftar 10 orang terkaya di Indonesia yang dikeluarkan Forbes pada tahun 2013 misalnya, 6 diantaranya adalah mereka yang memiliki darah Cina. Penasaran gak sih kenapa mereka yang datang dari latar belakang etnis ini selalu sukses dalam dunia perdagangan.

Disini akan memaparkan berbagai kultur dan kebiasaan orang Cina yang khas dan menjadi salah satu faktor penting kesuksesan berdagang mereka. Di sini tidak ingin mengatakan bahwa etnis ini lebih baik dari etnis yang lain. Namun, melihat keberhasilan mereka nggak salah kan kalau kita belajar dari apa yang sudah mereka lakukan? Lalu, apa saja yang telah mereka lakukan? Langsung saja simak di bawah ini:

1.    Usaha Keras, Berani Mencoba dan Tidak Takut Gagal
Agaknya poin inilah yang menjadi kelebihan utama dari para pengusaha Cina. Dalam keluarga Tionghoa, kerja keras bukanlah hal yang aneh. Mereka sudah terbiasa lembur hingga pagi. Jika ada kesempatan, seperti hari menjelang lebaran, mereka tahu bahwa permintaan akan meningkat, maka mereka akan bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut karena mereka menyadari bahwa lebaran hanya satu kali dalam satu tahun. Moto orang Tionghoa dalam kerja keras yang sering saya dengar adalah “Kita harus bisa memindahkan gunung” dan “Kita harus bisa seperti orang lain walaupun kita melakukannya 100 kali lebih keras dari mereka.”

Orang Tionghoa pada umumnya berani memulai suatu usaha dan tidak takut gagal. Mereka mempunyai sense of urgency yang tinggi. Mereka sering berpendapat, “Jika tidak memulai sekarang, kapan lagi?” Gagal bukanlah hal yang menakutkan karena umumnya mereka selalu memulai usaha dengan apa adanya dan dari bawah.

2. Tidak Boleh Terlambat Dan Wajib Tepat Waktu 
Orang berdarah tionghoa sangat sayang kepada waktu yang dimilikinya mereka benar - benar tidak menyiakannya dengan begitu saja. Jangan sampai ada kata telat apapun itu tujuanya, misal dalam poendidikan/dagang. Mereka harus bangun lebih pagi untuk membuka toko lebih awal dengan alasan agar pembeli yang sudah datang tidak kecewa karena melihat toko yang mereka punya masih dalam keadaan tutup, dan pembeli itu pun pergi ke tempat lain yang sudah buka. Tentu ini sangat merugikan dan keuntungan yang seharusnya jadi miliknya pindah ke tangan orang lain.

Sama saja halnya saat berada di sekolah, jika meraka sampai telat 5 menit saja mereka akan merasa sangat bersalah dan merasa sangat malu dan langsung meminta maaf kepada dosen atau guru yang mengajarnya dikelas dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ini patut ditiru kan?

3. Menjaga Reputasi dan Integritas
Etnis Tionghoa memiliki keyakinan kuat pada pentingnya menjaga reputasi dan integritas. Budaya Timur membuat nama baik menjadi hal yang sangat krusial untuk terus dijaga. Mereka selalu berupaya untuk menepati janji, berlaku baik kepada orang lain dengan keyakinan bahwa semua hal baik yang dilakukan akan kembali pada mereka.

Tidak hanya nama baik diri sendiri, integritas keluarga juga sangat perlu terus dipertahankan. Kesuksesan selalu integral dengan sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Bagi mereka, sukses tidak akan ada artinya saat keluargamu kacau balau. Rasa gengsi yang tinggi untuk terus menjaga nama baik membuat mereka selalu berusaha untuk memberikan kualitas nomor 1 di setiap pekerjaan yang dilakukan.

4.  Rajin Mengumpulkan Informasi dan Belajar.
Sebelum terjun ke suatu bidang usaha, umumnya orang Tionghoa akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Mereka tidak segan pergi ke saudara, teman, dan bahkan pihak yang tidak mereka kenal. Setiap pembicaraan dengan siapa saja mereka untuk menanyakan usaha yang akan mereka tekuni. Kemanapun mereka pergi, mereka akan membuka mata dan telinga lebar-lebar. Dengan kata lain mereka sangat mahir melakukan survey terhadap usaha yang akan mereka geluti. Selain itu, mereka juga tidak segan untuk belajar. Cara belajar yang umum dari mereka adalah bekerja untuk orang yang usahanya serupa. Setelah yakin telah menguasai cukup informasi dan keterampilan mereka akan berusaha sendiri.

5.  Selalu Melakukan Perencanaan
Perencanaan yang paling umum dilakukan oleh orang Cina adalah melihat dari segi untung-ruginya suatu usaha. Dalam bahasa akademis, mereka mempertimbangkan visibility usaha yang akan mereka jalankan. Berapa banyak ongkos yang akan dikeluarkan, bagaimana cara mendapatkan bahan baku/material, bagaimana mempersiapakan produk mereka, siapa yang akan beli, akan dijual dimana, kapan kembali modal, dan berapa keuntungannya merupakan faktor utama yang mereka pertimbangkan.

Perencanaan mereka juga sangat memperhatikan efektifitas (tujuan tercapai) dan efisiensi (tepat cara, tanpa banyak mengorbankan waktu dan tenaga) usaha yang mereka geluti.
6. Membina Relasi
Walaupun orang Cina sangat kompetitif, tetapi mereka selalu sadar bahwa membina relasi adalah salah satu kunci keberhasilan usaha mereka. Untuk membina hubungan baik mereka tidak ragu untuk mengeluarkan pengorbanan tertentu, seperti pemberian hadiah, mengundang makan dan melakukan entertain terhadap relasi mereka. Siapa saja yang bisa membantu melancarkan dan mengembangkan usaha adalah relasi mereka. Dengan pembinaan relasi yang baik, akan terbuka kerja sama yang saling menguntungkan. 

7. Sedari Kecil, Mereka Dididik Dengan  Keras
Kerja keras dan sifat tidak mudah mengeluh jadi hal yang telah diakrabi sejak kecil. Dalam memoar berjudul Battle Hymn of a Tiger Mother diceritakan bagaimana Amy Chua seorang ibu beretnis Tionghoa mendidik putri-putrinya. Walau dianggap super keras dan melanggar hak asasi anak tapi didikan ini memang mengantarkan anak-anaknya ke pintu gerbang kesuksesan. Ini nih yang selalu dilakukan oleh ibu-ibu etnis Tionghoa:

•    Tugas sekolah harus selalu diutamakan
•    Nilai A- itu jelek. Yang bagus cuma nilai A
•    Anak-anaknya harus 2 kali lebih pintar dari teman sekelas mereka
•    Jangan pernah memuji anakmu di depan publik, nanti mereka merasa bisa dan malas berusaha
•    Kalau ada perselisihan antara guru dan anak, selalu dukung guru. Mereka lebih tahu.
•    Anak-anak cuma boleh ikut kegiatan yang bisa mereka menangkan. Tak ada yang boleh dilakukan cuma untuk senang-senang.
•    Mereka harus selalu juara 1 dimanapun

Didikan keras plus minimnya penghargaan di publik membuat mereka haus akan pencapaian. Inilah sumber awal sifat kerja keras berasal. Sampai mereka super sukses, mereka belum akan merasa cukup. Karena sedari kecil selalu ditanamkan bahwa yang mereka lakukan belum ada apa-apanya dibanding orang lain.

8. Kemampuan Administratif dan Inventory Control.
Agaknya banyak orang lupa akan hal yang satu ini. Orang Cina sangat sadar akan pentingnya kemampuan dalam beradministrasi dan melakukan pengontrolan inventory. Mereka sangat memperhatikan secara terperinci setiap kegiatan usaha mereka dan merekamnya dalam catatan. Karena itu mereka tahu betul bagaimana neraca keuangan mereka dan persediaan inventory mereka. Sebagai contoh, jika kita hendak belanja sesuatu di toko orang Cina sangatlah jarang bahwa mereka sampai kehabisan persediaan. 

9.  Kemampuan Pemasaran.
Kemampuan pemasaran orang Cina umumnya ditunjang oleh kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan dan kemauan pelanggan dan kemampuan menentukan harga jual dari suatu produk secara tepat. Dari proses ini, maka terjadilah penyebaran iklan gratis dari mulut kemulut. Untuk pengusaha yang cukup besar, mereka melakukan positioning secara professional dengan mensponsori kegiatan tertentu dan pemasangan pengiklanan melalui media cetak dan media digital. 

10. Mendelegasikan.
Orang Cina sadar betul bahwa untuk mengembangkan suatu usaha agar menjadi besar, mereka harus bisa mendelegasikan pekerjaannya. Syarat utama pendeligasian adalah bahwa orang atau karyawan mereka harus bisa dipercaya. Karena itu, mereka cenderung mencari orang yang sudah dikenal lama dan terbukti bisa dipercaya. Bagi mereka keahlian berusaha bisa diajarkan, tetapi kebercayaan tergantung dari masing-masing kepribadian.
Karena sistem kepercayaan ini jugalah mereka tidak segan-segan meminta anak mereka yang masih kecil untuk membantu usaha mereka. Di lain pihak, anak mereka yang sudah terbiasa terekspos dengan usaha orang tuanya, membuat sang anak tumbuh dengan naluri usaha yang mendarah daging.

11. Mendiversifikasi.
Pengusaha Cina tidak mudah merasa puas dan cukup atas usaha mereka. Mereka selalu berusaha untuk memperluas usahanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan deversifikasi produk. Mereka cenderung mempunyai keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Mereka ingin agar pelanggannya hanya datang ke mereka. Untuk itu, mewujudkan keinginan ini, cara yang paling tepat adalah berani melakukan deversifikasi produk.

12. Mengolah keuangan.
Tidak ada istilah “uang mati” dalam kamus berdagang ala orang Cina. Mereka selalu mempekerjakan uang tersebut supaya bisa berlipat ganda. Cara yang paling umum dilakukan adalah menanamkan modal kembali ke usaha mereka. Hal ini bisa dilakukan untuk mendirikan usaha baru atau untuk membesarkan usaha yang telah ada.
Mental untuk melipatgandakan uang memang sudah tertanam dari kecil di lingkungan keluarga mereka. Contohnya, jika mereka menerima pemasukan Rp.100, maka mereka akan menyimpan paling tidak Rp. 25 dan sisanya ditanamkan kembali keusaha mereka dan untuk kebutuhan hidup mereka.

13. Mematuhi Rutinitas
Jadwal harian mereka yang akan berbeda dari kegiatan kita sehari-hari. Jadwal ini adalah rangkaian kegiatan tipikal etnis Tionghoa di Cina.
-Jam 06.00 : bangun, mandi, olah raga
-Jam 12.00: kembali ke rumah, makan siang di rumah, tidur siang
-Jam 18.00: selesai bekerja, pulang ke rumah dan memasak makan malam
-Jam 20.30 : mandi dan bersiap tidur

Berbeda dengan orang kebanyakan yang rutinitasnya berubah-ubah, mereka yang beretnis Tionghoa cenderung berpegang teguh pada jadwal ini. Kebiasaan sederhana ini ternyata memang membawa banyak manfaat. Bangun pagi dan berolahraga mampu menurunkan tingkat stres secara signifikan. Mandi sebelum tidur memberikan sinyal pada tubuh agar beristirahat dan memberi kesempatan agar bisa memanfaatkan waktu tidur secara optimal.

14. Menekankan pada Keunikan Cina
Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa kultur Cina sebenarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang menentukan kesuksesan pebisnis. Jadi, mereka tidak tumbuh dengan sendok emas di mulut. Sama seperti semua orang, mereka juga berusaha agar menjadi kaya.Etnis Tionghoa tidak sepenuhnya “menyerah” pada kebudayaan dan nilai turun-temurun mereka, dan itulah mengapa mereka unik.

Misalnya, hubungan hierarkis yang diatur dalam Wu-Lun seharusnya akan membuat para penganutnya sulit beradaptasi, tapi para etnis Tionghoa mengikuti budaya mereka dengan rasionalitas. Rasionalitas ini mencegah nilai-nilai tradisi menghambat keluwesan mereka dalam bisnis.

Para etnis Tionghoa selalu berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Mereka selalu tahu kapan harus bertahan dengan kehidupan sederhana, kapan harus mencoba menarik hati orang lain, dan apa saja yang harus ia lakukan agar bisa mengantongi pundi-pundi uang.

15. Selalu Optimis

Kegagalan jadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah proses menuju kesuksesan. Untuk menghadapi kegagalan dengan gagah berani, dibutuhkan optimisme tingkat tinggi. Inilah yang selalu dimiliki oleh mereka yang beretnis Tionghoa. Dan kamu yang bukan pun juga pasti bisa melakukannya.
Mereka tidak pernah mengeluh pada kebijakan pemerintah yang menyulitkan. Saat orang lain merasa nggak mungkin bisa, orang-orang ini akan gigih berkata: “Aku pasti bisa!”. Gak percaya? Jack Ma, Li Ka Shing, Wu-Shi Hong — semua mencapai kesuksesan mereka lewat jalan yang dianggap orang tidak masuk akal. Namun keyakinan dan determinasi mereka membuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin.

16. Menjadikan Berdagang Sebagai Hobi

Sebagaimana kita ketahui kalau menjadikan pekerjaan sebagai hobi, maka sukses akan lebih mudah di dapat, karena apabila sebuah pekerjaan dikerjakan sepenuh hati maka akan lebih bersemangat mengerjakannya. Bagi orang cina, berdagang dapat dijadikan hobi,tapi bukan untuk mengisi waktu luang.

17. Bersaing Secara Positif
Bagi masyarakat Cina, pedagang dilarang mengganggu dan menjelek-jelekkan kegiatan perdagangan orang lain. Persaingan dibenarkan menurut nilai moral dan pertimbangan kemanusiaan. Pedagang yang tidak mematuhi etika ini akan terkena sangsi. Perbuatan menjatuhkan perdagangan orang lain dianggap sebagai tindakan yang menyalahi aturan. Sekali namanya sudah rusak, selamanya orang tidak akan mempercayainya lagi.

18. Pandai Mencari Peluang

Dimanapun dan kapanpun orang cina jeli melihat peluang yang telah menanti didepan mata, contohnya menjelang hari raya maka banyak calon pembeli yang mengincar kue lebaran, perhiasan, busana, terutama yang berhubungan dengan perlengkapan muslim seperti jilbab dll. Ketika hari Imlek tiba, barang dagangannya diganti dengan baju-baju umum seperti gaun, kaos, hem yang berwarna merah atau menjual accesoris imlek seperti lilin, lampion, dan amplop angpaow. Jadi mereka mencari apa yang sekarang sedang musim dan tren, maka mereka akan membuat itu sebagai usaha.

19. Memilih Lokasi Toko
Lokasi toko yang strategis sangat berpengaruh dalam meningkatkan penjualan. Orang cina selalu mendirikan sebuah  toko yang berada ditengah-tengah kota. Mereka berpikir bahwa sebagian besar orang ketika hendak membeli barang dalam jumlah yang besar dan beragam, artinya bukan hanya satu jenis saja, biasanya mereka akan langsung membeli ke pasar besar (kota). Karena disana mereka dapat menjumpai beberapa toko yang sedang dicari berjejer sekaligus.

20. Penetapan Harga
Harga masih menjadi pertimbangan penting setelah kualitas. Kualitas yang bagus memiliki nilai jual lebih mahal daripada yang kualitas standar. Namun, kadang kita bingung juga mau menetapkan harga berapa, takutnya kalau terlalu mahal nantinya ditinggalkan konsumen, dan jika terlalu murah malah rugi juga karena tidak mempunyai untung. Jadi sebagai alternatif, bisa dengan melakukan survei dari para pesaing Anda dan menetapkan harga sedikit dibawahnya.

Prinsip dagang orang cina adalah mendapatkan untung sedikit namun laris sepanjang waktu. Untuk menarik calon pembeli, sebaiknya ada salah satu barang yang anda jual dengan sangat murah. Meskipun kita rugi dengan satu jenis barang, tapi kita mendapat keuntungan dengan adanya pembelian barang yang lain. Kombinasi antara barang laku keras untung sedikit dan barang lama laku tapi untung besar adalah baik.

Poin utama kesuksesan dari bisnis keluarga orang Tionghoa adalah warisan nilai-nilai atau prinsip-prinsip usaha yang berhasil diturunkan oleh orang tua Tionghoa kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, jika kita pergi ke toko-toko orang Tionghoa, sering kali kita dilayani oleh anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tanpa merasa canggung, anak tersebut bisa melayani kita dengan mahirnya. Adalah hal yang wajar jika suatu saat ia tumbuh menjadi orang dewasa, maka ia sudah siap untuk berusaha. 

Orang tua Tionghoa tidak pernah segan untuk melibatkan anaknya yang masih kecil dalam usaha mereka. Mereka sudah diberi tanggungjawab yang cukup besar untuk ukuran seorang murid SD. Mereka diajari setiap proses bisnis dari persiapan hingga sampai ke tangan pelanggan dan bagaimana menangani pelanggan setelah transaksi jual beli. 

Anak-anak orang Tionghoa juga diajak kerja lembur, bahkan banyak dari mereka yang diajak bekerja sampai pagi tanpa tidur. Dalam proses kerja itu, mereka di dampingi oleh orang tua mereka. Pada kesempatan itu terjadi penurunan nilai-nilai cara berusaha dari orang tua mereka.

Melibatkan anak dari usia dini adalah cara yang paling ampuh dari orang tua mereka untuk membentuk anak mereka menjadi pedagang tangguh di kemudian hari.

Sekian, semoga bermanfaat.

Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
5 Oktober 2018 00.31 ×

terimakasih infonya sangat menarik, kunjungi http://bit.ly/2wy3TDq

Congrats bro essen aquatic you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Thanks for your comment